|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pengunjung ke 12503 sejak 14 November 2006
|
MELAYU TUA Sejarah Orang Melayu merupakan suku asli di Indragiri yang mendiami pinggir-pinggir sungai, mereka telah lama hidup di wilayah ini dan diperkirakan lebih dari 500 tahun yang lalu. Perbedaan Orang Melayu dan Talang Mamak hanya pada kepercayaan dan pemakaian adat. Orang Talang Mamak masih Animisme sedangkan Melayu sudah Islam. Hal tersebut juga berdampak pada pola konsumsi dan makanan di mana Melayu cenderung banyak pantangan makanan. Demikian juga adat-adat yang telah berbau kebudayaan Muslim/Arab. Perdagangan Penduduk tradisional Bukit Tigapuluh hidup dari perladangan berpindah dan mengumpulkan hasil hutan yang dipertukarkan dan dijual. Tradisi telah berlangsung ribuan tahun yang lalu dan merupakan hal penting dalam pembentukan struktur sosial politik masyarakat di Sumatera dataran rendah. Sebagai sarana transportasi pada waktu itu untuk mengangkut sumberdaya dari daerah ini dan sekitarnya sebagian menggunakan jalan setapak dan sungai-sungai menggunakan rakit dan sampan. Kawasan Bukit Tigapuluh utara dan Barat menggunakan Sungai Cenaku, Keritang, Akar dan Gansal. Di daerah Jambi transportasi sungai tersebut menggunakan rute Sungai Tungkal dan Sumai. Pusat kekuasaan dan kerajaan pada masa lalu berkembang pada sungai besar utama seperti Indragiri dan Batanghari yang didasarkan pada arus barang dan pengenalan barang-barang perdagangan antar Asia yang disebut jalur sutra ke Selat Malaka. Penduduk yang berada pada hutan dataran rendah yang luas berada di antara Sunagi Indragiri dengan Batanghari di mana Bukit Tigapuluh itu berada terorganisir pada suatu federasi yang longgar yang menguasai anak-anak sungai. Namun pada dasarnya federasi itu bersifat otonom pada zaman kerajaan dengan menggunakan DAS dan Sub DAS karena jalur transportasi hanya tinggal sedikit yaitu penduduk di dalam TNBT di DAS Gangsal. Pada abad ke-19 pengumpulan hasil hutan meningkat karena perdagangan dunia dan permintaan hasil hutan meningkat pula. Pada abad ke-20 mengalami penurunan karena harganya tidak stabil bahkan rendah sekali. Akibatnya penduduk lokal mempunyai pekerjaan alternatif ketika tanaman karet diperkenalkan ke daerah ini. Sistem perladangan berpindah pun diintegrasikan dengan penanaman karet. Sekarang hanya masyarakat Talang Mamak yang di hulu Gangsal yang masih menggantungkan hidupnya dari hasil hutan dan menjualnya keluar dengan menggunakan sungai. Budaya dan Agama Penduduk yang berada di dataran rendah Sumatera dan yang berdiam di sekitar sungai mempunyai persamaan bahasa dan budaya. Ada perbedaan sosial kultural dari penduduk di atas, hal ini disebabkan oleh perbedaan adapatasi lingkungan terutama dikarenakan adanya hubungan komunikasi dan politik ekonomi dengan pihak luar. Lebih dari 500 tahun yang lalu penduduk yang berada di sekitar sungai telah beragama Islam. Pada abad yang lalu hingga sekarang ini perdagangan yang intensif mempengaruhi ekspansi Islam, begitu juga dengan masuknya migran dan perkawinan silang. Pada umumnya penduduk asli Bukit Tigapuluh telah menganut Agama Islam, identitas itu pula yang menjadi mereka disebut Melayu. Walaupun mereka sudah Islam namun masih sinkritis. Sebagian lagi penduduk tradisional masih menganut agama asli dan cenderung menolak Islam karena alasan makanan haram dan perbedaan kecil lainnya. Perladangan Berpindah Penduduk yang ada di sekitar Bukit Tigapuluh sangat mendukung pengelolaan kawasan konservasi di Bukit Tigapuluh karena mereka melakukan perladangan berpindah dengan menanam karet dan hidup dari mengumpulkan hasil hutan. Ketersediaan hutan sangat menjaminkan sistem perladangan beringsut tidak bisa dilakukan dengan baik dan benar. Contoh kasus hutan yang semakin sedikit di Desa Talang Perigi di Kecamatan Kelayang mengakibatkan rotasi perladangan berpindah semakin cepat. Kalau rotasi perladangan beringsut semakin cepat, unsur humus tanah kurang tebal dan mengakibatkan miskinnya kandungan hara, sehingga hasil padi kurang memuaskan. Dengan ditetapkannya taman nasional, berarti menjaminkan lahan dan sumberdaya bagi kehidupan ketiga suku tradisional di atas. Integrasi perladangan berpindah dengan penanaman karet sangat menguntungkan penduduk lokal, sebab setelah ladang dibuka kemudian ditanami karet, untuk mendapatkan penghasilan lain, mereka mencari hasil hutan. Setelah karet bisa ditakik/deres kaum tua atau perempuan yang menyadapnya sedangkan kaum muda perti mencari hasil hutan sehingga mereka selalu dapat subsistem. Kearifan terhadap Alam Pada umumnya masyarakat Melayu dan Talang Mamak memiliki dasar dan konsep pengelolaan konservasi. Bahkan masyarakat ini telah memiliki konsep pengelolaan ruang/wilayah secara tradisional. Batas antara kampung dengan kampung lainnya diatur dengan baik. Dalam pembatasan wilayah mereka mengenal pepatah "Cucur Ayik Sinding Pematang" di mana batas antara batin atau kampung dibatasi oleh sungai dan aliran sungai ke induk sungai. Selain itu mereka juga mengenal puaka yaitu suatu hamparan hutan yang dikeramatkan dan dipercayai adanya roh-roh gaib dari leluhur yang bersemayam di daerah tersebut. Dalam kampung juga terdapat banyak sialang (pohon yang dihinggapi lebah yang menghasilkan madu). Menebang pohon sialang merupakan kesalahan kedua setelah membunuh manusia. Jika pohon sialang tertebang maka masyarakat akan mengadakan upacara menebus kematian pohon kehidupan dengan memberi sepucuk kain putih. Biasanya kalau sialang tertebang akan dilakukan denda baik bagi masyarakat setempat ataupun pihak luar. Sialang juga mempunyai fungsi sosial karena dalam pemanfaatan madu semua unsur dalam masyarakat mendapatkannya, dan fungsi ekonomi, karena satu pohon sialang bisa menghasilkan madu hingga berton-ton dan uang sampai jutaan rupiah. Dalam pengelolaan wilayah masyarakat Melayu dan Talang Mamak memiliki pepatah "tindik dabu, lupak pendanauan, sialang pendulangan, cucur ayik sinding pematang" (sesuatunya didasarkan pada adat, sungai dilindungi untuk mendapatkan ikan, sialang untuk mendapatkan madu, batas desa dan kekuasaan didasarkan pada sungai yang mengalir pada sungai besar (DAS). Tradisi Tradisi dan budaya antara Melayu dan Talang Mamak hampir sama dan memiliki latar belakang yang sama. Beberapa tradisi dan upacara yang menarik adalah :
Diupdate oleh Staf TNBT pada Selasa 20 Oct 2009 pukul 00:00:00 |