Mereka
memiliki berbagai kesenian yang dipertunjukkan pada pesta/gawai dan
dilakukan pada saat upacara seperti pencak silat yang diiringi dengan
gendang, main gambus, tari balai terbang, tari bulian dan main ketebung.
Berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan upacara-upacara tradisional
yang selalu dihubungkan dengan alam gaib dengan bantuan dukun.
Prinsip
memegang adat sangat kuat bagi mereka dan cenderung menolak budaya lauar,
tercermin dari pepatah "biar mati anak asal jangan mati adat". Kekukuhan
memegang adat masih kuat bagi kelompok Tigabalai dan di dalam taman
nasional, kecuali di lintas timur karena sudah banyaknya pengaruh dari
luar.
Dengan
berlakunya UU Pemerintah Desa No. 5 tahun 1979, mengakibatkan berubahnya
struktur pemerintahan desa yang sentralistik dan kurang mengakui kepemimpinan
informal. Akhirnya kepemimpinan Talang Mamak terpecah-pecah, untuk posisi
patih diduduki 3 orang yang mempunyai pendukung yang fanatis, demikian
juga konflik terhadap perebutan sumber daya. Walaupun otonomi daerah
berjalan, konflik kepemimpinan Talang Mamak sulit diresolusi, mereka
saat ini saling curiga.
Pendidikan
Sebagian
besar penduduk Talang Mamak buta huruf yang disebabkan oleh berbagai
faktor dan kendala. Di dalam taman nasional, wilayahnya tidak terjangkau,
sarana prasarana tidak memungkinkan. Di luar taman seperti di Lintas
Timur, sekolah baru ada akhir-akhir ini dan kurang diminati sebab pendidikan
dirasa tidak dapat memecahkan masalah mereka di samping ekonomi yang
subsistem. Di wilayah Tigabalai sebagian besar menolak pendidikan, karena
anak-anak mereka yang bersekolah dan mengecap pendidikan akhirnya keluar
dari kelompoknya.
Lingkungan
dan Ekonomi
Tanah dan
hutan bagi Suku Talang Mamak merupakan bagian dari kehidupan yang tidak
dapat dipisahkan. Sejak beratus-ratus tahun mereka hidup damai dan menyatu
dengan alam. Mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan dan melakukan
perladangan berpindah. Dari dulu mereka berperan dalam penyediaan permintaan
pasar dunia. Sejak awal abad ke-19 pencarian hasil hutan meningkat seiring
dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap hasil hutan seperti jernang,
jelutung, balam merah/putih, gaharu, rotan. Tetapi abad ke-20 hasil
hutan di pasaran lesu atau tidak menentu, namun ada alternatif ekonomi
lain yaitu mengadaptasikan perladangan berpindah dengan penanaman karet.
Penanaman karet tentunya menjadikan mereka lebih menetap dan sekaligus
sebagai alat untuk mempertahankan lahan dan hutannya.
Mereka mulai
terusik dan diporakporandakan oleh kehadiran HPH, penempatan transmigrasi,
pembabatan hutan oleh perusahaan dan sisanya dikuasai oleh migran. Kini
sebagian besar hutan alam mereka tinggal hamparan kelapa sawit yang
merupakan milik pihak lain. Penyempitan lingkungan Talang Mamak berdampak
pada sulitnya melakukan sistem perladangan beringsut dengan baik dan
benar dan harus beradaptasi, bagi yang tidak mampu beradaptasi kehidupannya
akan terancam. Oleh sebab itu, sekelompok suku Talang Mamak yang di
Tigabalai di bawah kepemimpinan Patih Laman gigih mempertahankan hutannya.
Demi memperjuangkan
hutan adat, ia menentang dan menolak segala pembangunan dan perusahaan
serta rela mati mempertahankan hutan. Kegigihan dan perjuangan "orang
tua si buta huruf ini" diusulkan menjadi nominasi dan memenangkan penghargaan
International "WWF International Award for Conservation Merit 1999"
dari tingkat grass root. Beliau juga mengharumkan nama Riau
dan Indonesia di bidang konservasi yang diterimanya di Kinabalu Malaysia
bersama dua pemenang lainnya dari Malaysia dan India. Pada tahun 2003,
Patih Laman mendapatkan penghargaan KALPATARU dari Presiden Republik
Indonesia.
Masyarakat
Talang Mamak Dalam Taman Nasional
Suku Talang
Mamak yang ada di dalam taman nasional secara tradisional masuk dalam
kepemimpinan Sembilan Batang Gangsal Sepuluh Jan Denalah, Denalah Pasak
Melintang. Sekitar seratus tahun yang lalu penduduk di wilayah ini masih
Talang Mamak, namun dengan masuknya Islam, ada tiga dusun yang penduduknya
sudah Melayu, mengalih atau menjadi langkah baru.
Pada tahun
1999 jumlah penduduk di dalam TNBT sebanyak 181 keluarga atau 844 orang.
Di mana Talang Mamak berjumlah 97 keluarga atau 523 orang. Sedangkan
Suku Melayu sebanyak 64 keluarga atau 321 orang.
Masyarakat
Talang Mamak dan Melayu tradisional tersebut berada di dalam TNBT sepanjang
Sungai Gangsal. Ada 8 dusun yang mereka tempati, di wilayah Riau 7 dusun
yaitu Tanah Datar, Dusun Tua, Suit, Sadan, Air Bomban, Nunusan dan Siamang
Desa Rantau Langsat. Sedangkan satu dusun lagi di wilayah Jambi yaitu
Semerantihan desa Suo-suo. Kelompok yang memecah dari Dusun Tua karena
konflik dan ketersediaan sumber daya.
Ada 3 dusun
dihuni Suku Melayu yaitu Dusun Sadan, Air Bomban dan Nunusan selebihnya
dihuni Suku Talang Mamak.
|