Rasa
aman dalam hutan, menjadi faktor pendorong bagi Orang Rimba untuk tetap
memilih kehidupan dalam hutan, rasa aman ini terutama dimaksudkan sebagai
perumpamaan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak mereka.
Perempuan
mempunyai peran penting dalam kehidupan Orang Rimba sebagai pemilik
dan pendistribusi sumber daya dalam keluarga. Peran perempuan sebagai
pemilik dan pendistribusi sumber daya tersebut merupakan alasan laki-laki
untuk selalu melindungi perempuan dengan memberikan rasa aman bagi perempuan
terutama dari gangguan yang mungkin timbul dari kehadiran pihak luar,
sehingga timbul kesan bahwa perempuan Orang Rimba tidak mempunyai peran
yang dominan dalam kehidupan sosial mereka.
Interaksi
dengan pihak luar yang umumnya dilakukan oleh laki-laki Orang Rimba,
berkaitan dengan aktivitas ekonomi mereka. Di mana laki-laki berkewajiban
mencari hasil hutan dan menjualnya ke pasar dengan perantara toke. Peran
toke di sini menghubungkan Orang Rimba dengan aktivitas ekonomi pasar.
Dalam aktivitas ekonomi pasar, baik toke maupun Orang Rimba berada dalam
pola saling ketergantungan yang lebih menguntungkan toke.
Toke
berperan sebagai pihak yang membiayai kegiatan pencarian hasil hutan.
Biaya yang dikeluarkan toke selama pencarian harus dibayar dalam bentuk
hasil hutan oleh Orang Rimba, namun dengan situasi hutan sekarang di
mana kesediaan hasil hutan sudah berkurang maka Orang Rimba terjerat
hutang kepada toke.
Orang
Rimba/Kubu di Bukit Tigapuluh berbeda secara signifikan dengan Talang
Mamak dan Melayu. Suku ini juga hidup dari mengumpulkan hasil hutan
dan menjualnya ke luar, dan sebagian melakukan perladangan berpindah.
Mereka ini mempunyai areal untuk berpindah-pindah yang cenderung mereka
lindungi untuk mencari sumberdaya liar sebagai pemburu pengumpul. Ketika
membuka hutan untuk perladangan berpindah, mereka cenderung melindungi
daerah ini sebagai camp untuk persediaan makanan daripada membuka lahan
baru.
Budaya
Ada beberapa budaya
yang sangat menarik seperti:
- tradisi mencari
hasil hutan : jernang, rotan, damar, dan lain-lain.
- tradisi berburu
: untuk memenuhi protein orang kubu berburu bai, nangui, kancil, rusa
dan ular.
Kegiatan
ini sangat menarik jika bisa dijadikan objek dalam kegiatan ekoturisme
di TNBT. Namun yang paling sulit adalah menemukan posisi/tempat kelompok
Orang Rimba.
Sesudungon
yaitu tempat berteduh/rumah sederhana berukuran 2x2 dan beratap daun
atau plastik. Sesudongan ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan
nomaden dan beberapa budaya seperti "melangun".
Melangun adalah
tradisi berpindah lokasi tinggal jika ada keluarga yang meninggal. Mereka
akan meratap dan meninggalkan semua harta benda tidak bergerak untuk
beberapa waktu, bisa 2 hingga lima tahun.
Orang
Rimba juga memiliki konsep dan pembedaan diri dengan orang di luar mereka.
Mereka menyebut dirinya sebagai Orang Rimba yang memiliki makna orang
di dalam hutan dan tidak mau bercampur dengan orang Melayu atau di luar
orang Rimba. Hal ini karena adanya anggapan bahwa orang Melayu/orang
di luar Rimba akan membawa penyakit bagi mereka. Sehingga Orang Rimba
sampai saat ini tidak mau hidup bercampur dengan orang di luar rimba.
Namun interaksi dengan orang Melayu telah berlangsung lama terutama
untuk menukarkan hasil-hasil dari hutan dengan kebutuhan dari luar mereka
seperti gula, tembakau dan beras. Orang Rimba juga memantangkan makanan
yang berasal dari luar karena makanan dari luar dianggap mendatangkan
penyakit, hal ini juga sesuai dengan sistem kesehatan yang berlaku bagi
Orang Rimba.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa setiap kebudayaan akan berdinamika, saat ini
ada beberapa kelompok Orang Rimba di TNBT yang sudah menetap layaknya
orang Melayu dan Talang Mamak yaitu kelompok Becukai, mengadaptasikan
sebahagian adat dengan suku Talang Mamak yang lebih dahulu hidup di
Dusun Semerantihan.
|